Bayang-bayang di Lorong Pondok
Biasanya, jam-jam seperti ini masih ramai. Ayat-ayat suci
bersahut-sahutan dari kamar ke kamar. Tawa kecil menyelip di antara langkah
para santri. Tapi malam ini, pondok diam. Hujan dan angin membuat para santri
lebih cepat masuk kamar. Tak ada canda di depan rak sepatu. Tak ada ketukan
pintu untuk sekadar berbagi kisah.
Di kamar, sebagian santri menekuri mushaf, sebagian lain
telah lelap berselimut. Suara detak jam terdengar jelas. Lampu lorong menyala
remang. Pondok terasa damai, tapi juga asing.
"Mbak Alya, mau ke mana?" tanya Rika dari balik
selimut, matanya mengintip setengah terbuka.
Alya menuruni ranjang pelan. "Ke toilet, Rik. Kamu
belum tidur?"
"Belum bisa tidur, Mbak."
Alya keluar kamar. Langkahnya nyaris tak bersuara di
lantai yang lembap. Rika menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Tak ada tanda
Alya kembali.
Penasaran, Rika membuka pintu. Dari ujung lorong, tampak
Alya berdiri di depan pintu toilet. Tidak masuk. Tidak bergerak. Seperti
berbicara pada sesuatu. Tapi... siapa?
Rika menutup pintu perlahan. Selimutnya ditarik hingga
kepala. Nafasnya sesak.
Beberapa menit kemudian, suara langkah pelan terdengar.
Pintu berderit terbuka.
"Mbak Alya tadi ngobrol sama siapa?" tanya Rika
dengan suara bergetar.
"Tidak, bukan siapa-siapa. Tenanglah, Rik. Aku
baik-baik saja," jawab Alya.
Alya dan Rika selalu bersama. Satu kamar, satu kelompok
murojaah. Bahkan berbagi bantal saat listrik mati. Rika menganggap Alya
kakaknya sendiri. Lembut, sabar, dan... misterius.
Malam itu, setelah Isya lewat, Alya keluar lagi. Bukan ke
toilet, tapi ke ruang ngaji bersama. Tempat kecil yang biasanya ramai ba’da
Maghrib, kini sunyi.
Rika, yang belum tidur, mengikuti diam-diam. Sejak
kejadian di lorong itu, rasa penasarannya tumbuh bersama rasa takut.
Dari balik pintu, Rika mengintip. Alya duduk bersila,
mushaf terbuka di hadapannya. Kepalanya sedikit menunduk, seperti menyimak.
Lalu terdengar suara. Merdu. Tajwidnya rapi, tartilnya
indah. Seperti suara perempuan membaca Al-Qur’an. Tapi bukan suara Alya. Gadis
itu hanya diam, mendengarkan, sesekali mengangguk pelan.
Namun ruangan itu kosong. Tak ada siapa pun.
Rika mundur perlahan. Dadanya sesak. Sejak malam itu, ia
tahu: Alya tidak pernah benar-benar sendiri. Ada yang selalu bersamanya. Sosok
yang tak terlihat.
Kata orang, itu khodam. Tapi bagi Rika, ia bukan sekadar
bayangan. Ia hadir. Ia membaca. Ia menemani.
Kabar tentang keanehan Alya menyebar perlahan. Ada yang
mengintip dari celah pintu. Ada yang cukup percaya dari bisik-bisik.
Sebagian merasa iba. Alya dikenal rajin, tenang, tak
pernah melanggar aturan. Tapi keanehan itu menciptakan jarak. Ada yang mulai
berbisik saat ia lewat. Ada yang menghindari duduk di sebelahnya.
Ketakutan tumbuh setelah beberapa santri kesurupan.
Menjerit, menangis, berbicara dengan suara asing. Tubuh mereka tak terkendali,
seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.
Dalam satu kejadian, seorang santri menunjuk ke halaman.
"Di sana! Tempat itu kotor! Pembalut dibuang
sembarangan!"
Pondok tegang. Tak ada yang tahu siapa yang membuang
benda najis di tempat yang dianggap keramat. Isyarat bahwa ada yang marah.
Alya mendekati santri kerasukan itu. Ia berjongkok,
menggenggam telapak tangannya. Bibirnya bergerak lirih.
"Baik! Aku akan pergi! Tapi ingatkan
teman-temanmu—jangan ganggu anakku!" suara itu melengking, bukan milik si
santri. Matanya melotot, telunjuknya mengarah tajam ke sudut halaman.
Kamar sunyi. Tak ada yang berani bicara. Wajah-wajah para
santri memucat, mata mereka saling menatap penuh tanya dan takut. Beberapa
menarik selimut hingga ke dagu, seolah mencari perlindungan. Suasana terasa
menegang, seakan udara di dalam kamar menjadi lebih berat. Detak jam terdengar
seperti palu, dan setiap desis angin seolah membawa bisikan yang tak
dimengerti.
Kabar itu sampai ke telinga Abah, pengasuh pondok.
Tatapannya mulai berubah. Diam-diam, ia memperhatikan Alya lebih dalam.
Hingga suatu hari, Abah memanggil orang tua Alya.
"Pak Salman, Bu Rina... Alya ini anak yang istimewa.
Ia punya sahabat yang tak kasat mata," kata Abah pelan.
Alya duduk di antara mereka. Senyumnya kecil, kepalanya
menunduk.
"Di belakang Alya, ada beberapa yang ikut duduk.
Sepertinya mereka tak ingin jauh darinya," lanjut Abah sambil menatap ke
arah kosong.
Pak Salman dan Bu Rina menoleh perlahan ke belakang.
Jantung mereka berdetak lebih cepat, seolah tubuh mereka tahu ada sesuatu yang
tak bisa dijelaskan dengan nalar. Mata mereka mencari, tapi tak ada
apa-apa—hanya kehampaan yang terasa seperti menatap balik. Diam-diam,
kegelisahan menyelinap, menyesakkan dada. Mereka saling pandang, tak berani
mengucap sepatah kata pun. Tatapan mereka menyiratkan takut yang ditahan dalam
diam.
"Sudah, kalian keluar dulu. Biarkan Alya bersama
orang tuanya," ujar Abah lembut namun tegas.
Suasana hening. Hanya detak jantung yang terdengar.
"Tidak usah panik. Alya baik-baik saja," Abah
menenangkan.
"Pernahkah Bapak atau Ibu, mengalami kejadian aneh
saat Alya kecil?"
Bu Rina menatap suaminya. Pak Salman mengangguk pelan.
"Dulu, waktu Alya balita, saya pernah mimpi
berdampingan dengan seekor harimau. Saat itu saya tertidur di samping Alya.
Rasanya nyata sekali, Bah," ujar Bu Rina, suaranya gemetar.
Abah tersenyum, senyum yang tenang namun menyimpan makna
dalam. Seakan ia baru saja mendapatkan kepastian dari sesuatu yang selama ini
hanya ia rasakan dalam diam. Dalam senyum itu, ada rasa syukur, tapi juga
kesadaran bahwa amanah besar tengah dititipkan kepada Alya.
"Alhamdulillah... Barokallah... Alya kelak akan
menjadi orang besar dan penghafal Al-Qur’an."
Semua yang hadir menunduk. Lalu serempak menjawab,
"Aamiin."
Abah menjelaskan dengan suara yang pelan namun penuh
keyakinan, bahwa jika seorang anak diikuti oleh makhluk tak kasat mata—yang
biasa disebut khodam—itu bukan semata-mata hal gaib yang menakutkan. Justru,
sering kali itu menjadi pertanda bahwa anak tersebut dikaruniai kelebihan
istimewa oleh Allah. Kelebihan itu bisa berupa ketajaman hati, kekuatan ruhani,
atau kemampuan memahami hal-hal yang tak tertangkap oleh pancaindra biasa.
"Tentu saja, semua itu harus dijaga dan diarahkan
dengan ilmu dan akhlak yang lurus," tambah Abah, matanya menyapu wajah
orang tua Alya dengan sorot penuh harap dan tanggung jawab.[]